Tuesday, November 24, 2009

Story of Winter *I Fallin' Her*

Posted by Ai The Lonely Princess at Tuesday, November 24, 2009 7 ♥ People Responds
Annyeong haseyo~~!!!
Akhirnya Ai kembali, ga tau udah berapa lama ga blogging..
Nah, Ai kembali bawa apdetan Story of Winter...
Maaf ya, kalo lama banget ga balik en ga apdet,
Keasikan di forum sih~
Tapi akhirnya aku balik, kangen sama kalian semua...
Udah deh, lanjut,
Baca en komen ya...





Story of Winter


* I Fallin' Her

* Ray


Aku melirik jam tangaku. Jam baru menunjukkan pukul 3:10 sore. Dia masih belum pulang, gumamku dalam hati. Aku merasa benar-benar konyol sekarang. Kenapa aku mau menunggui gadis yang belum lama kukenal? Aku tidak tahu kenapa, tapi rasa penasaranku pada gadis itulah yang mendorongku untuk melakukan ini. Aku masih inngat saat pertama kali melihatnya. Saat aku sedang membereskan barang-barangku, dia memperhatikanku dari jendela kamarnya. Dan sepertinya gadis berambut sebahu itu tidak menyadari kalau dia terus memperhatikanku hingga hari mulai gelap. Mungkin aku jadi terlalu percaya diri karena dia terus memperhatikanku. Tapi disisi lain, aku merasa seperti benar-benar mempunyai penggemar rahasia. Perasaan yang konyol, ya?

Tak lama saat aku sedang menunggu, aku melihat seorang gadis yang masih mengenakan seragam SMP swasta berjalan di trotoar yang berada di seberang tempatku berdiri. Gadis itu tersenyum, tapi sayangnya bukan padaku. Ia tersenyum pada seseorang yang sedang berjalan bersamanya. Aku hendak memanggilnya, tapi kuurungkan niatku ketika aku melihat siapa yang sedang bersamanya. Seorang laki-laki yang sepertinya sebaya dengannya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah, tanpa gadis yang seharusnya berada disampingku.

Aku merebahkan tubuh diatas tempat tidurku ketika sampai dirumah. Perasaanku kacau. Rasanya ingin marah dan merusak semua barang yang ada disekitarku. Tapi rasa lelah mengalahkan rasa kesalku. Aku membuka kancing baju seragamku sambil berusaha mencerna apa yang kulihat tadi. El pernah mengatakan padaku kalau dia tidak punya pacar dan belum mau memikirkan hal-hal semacam itu. Tapi itu bukan berarti tidak ada laki-laki yang mendekatinya.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku mengusap wajahku lalu berjalan menuju pintu. El berada disana. Ia berdiri menutupi wajah dengan buku pelajarannya ketika aku membukakan pintu.

“Ada apa?” tanyaku mencoba menyingkirkan buku yang menghalangi wajahnya.

Ia menunjuk kearahku dan sedikit mengintip dari balik buku. “Itu… bajumu,”

Aku menatapnya heran kemudian mengalihkan pandanganku kearah yang ditunjuknya. Astaga! Aku lupa kalau sudah membuka semua kancing bajuku. Segera mungkin aku menggumamkan maaf pada El dan menyuruhnya mengungguku di ruang tengah. Aku buru-buru mengganti pakaianku dengan kaus dan celana panjang longgar dan kembali ke tempat El menunggu. Aku duduk di sofa sebelahnya dan berusaha memalingkan wajahku agar tidak bertatap muka dengannya.

“Ada apa kau kesini?” tanyaku memecah kesunyian.

“Kenapa kau tidak menugguku?” tanyanya balik.

Aku sudah menunggumu, tahu!

“Well, bukankah kau pulang bersama teman laki-lakimu, ya? aku melihatmu berjalan bersamanya. Aku tidak enak kalau harus mengganggu kalian. Jadi aku pulang sendiri,”

El tertegun mendengar penjelasanku. Ia terdiam sesaat lalu mulai mengeluarkan senyum jahilnya. “Kau cemburu, ya?”

Aku membalasnya dengan tertawa pahit. “Jangan bodoh. Apa yang kau mengerti tentang cemburu, hah? Kau tidak sadar, kau masih terlalu kecil untuk itu, tahu!”

“Jangan menghinaku!” protesnya. “Kita hanya berbeda setahunatau mungkin kurang--tapi kenapa kau menganggapku berbeda bertahun-tahun?”

Aku hanya mendesah mendengar ocehannya. Dia sama sekali tidak mengerti maksudku. Kuakui, aku memang ‘sedikit’ cemburu. Tapi kenapa dia tidak menjelaskan bagaimana hubungannya dengan laki-laki itu? Membuat rasa penasaranku padanya semakin bertambah saja! Aku melirik El. Wajahnya manis, tidak heran kalau banyak laki-laki yang mendekatinya. Semakin lama kuperhatikan, aku baru menyadari kalau wajahnya selalu terlihat pucat dengan pipi yang kemerah-merahan. Melihatnya yang seperti itu, membuat rasa penasaranku kembali muncul.

“El,” kataku akhirnya. “Kau sakit, ya? kenapa wajahmu pucat sekali,”

“Wajahku memang seperti ini sejak dulu. Jangan protes!”

“Hey, kenapa marah seperti itu? Ayolah, jangan memalingkan wajahmu begitu,”

“Aku tidak suka kau menganggapku anak kecil,”

Aku mencoba merayunya, tapi tidak berhasil. El tetap memalingkan wajahnya dariku. Terlintas rencana untuk menjahilinya dipikiranku. Aku meletakkan tanganku di dinding tepat disamping kepalanya. Ia kaget melihat apa yang kulakukan. Aku mencoba menahan tawa dan membuat wajahku terlihat serius. Aku mencondongkan tubuhku hingga dekat sekali dengan wajahnya. Dan mungkin kalau aku memajukan wajahku sedikit lagi--kurasa dua atau tiga senti lagi--kami pasti akan berciuman. Tapi bukan itu yang kuinginkan. Aku melihat wajahnya yang pucat menjadi merah padam. Ia tidak punya cukup ruang untuk bergerak. Aku tersenyum dan menatapnya penuh kepuasan lalu menggumamkan sesuatu padanya. “Aku tidak akan mencium anak-anak sepertimu, kau tahu?”

El mendesah kesal. Aku tak bisa menahan tawa lagi melihatnya. Menyenangkan juga, menjahili anak kecil seperti dia, gumamku dalam hati.

“Aku kira kau akan benar-benar melakukan hal nekat seperti itu. Syukurlah ternyata tidak,” gumam El yang masih tidak mau menatapku.

Aku menepuk-nepuk kepalanya sambil setengah mengacak-acak rambutnya. “Tenang saja, aku akan melakukannya kalau kau sudah cukup umur,”

Astaga! Apa yang kukatakan?

“Eh, apa maksudmu? Gawat, sudah jam segini! Mom pasti akan memarahiku nanti. Sudah, ya. Kapan-kapan aku akan menagih penjelasanmu tentang hal itu. Bye!”


Aku bersandar dibalik pintu rumahku setelah melihat El masuk ke rumahnya. Aku menghela napas panjang. Apa yang barusan kukatakan? Apa itu artinya aku menyukai El? Secepat itukah? Bagaimana bisa? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku. Aku mencoba mengintip rumah El dari jendela. Terlihat ia sudah mengganti seragamnya menjadi kaus dan rok selutut. Ia melirik kearahku--tapi sepertinya ia tidak menyadariku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya lebih dari ini. Tapi sepertinya… aku memang mulai menyukai gadis yang selalu bisa membuat rasa penasaranku bangkit itu.

*************************************************************************************

Aku bersandar di sebuah gerbang sekolah swasta sambil mengotak-atik ponselku. Sebentar lagi dia keluar, gumamku. Aku terus melirik tidak sabar kedalam gerbang itu. Beberapa anak mulai keluar. Kebanyakan mereka memakai sweater musim dingin sekolahnya. Semakin hari memang semakin dingin. Jadi, tidak heran kalau sebagian besar mereka sudah mengeratkan jaket dan sweater. Akhirnya gadis yang kutunggu keluar dari pintu sekolah dan sedang berjalan--dengan temannya--menuju gerbang yang sekolah yang terbuka lebar.

“El!” seruku sambil melambai padanya. Ia membalas lambaianku lalu berlari kearahku meniggalkan temannya yang berambut sepunggung itu.

“Ray, ada apa kemari? Menugguku pulang sekolah?” tanyanya bertubi-tubi.

“Mm, memang tidak boleh?”

Ia tertawa kecil lalu berjalan mengikutiku pulang ke rumah. Selama perjalanan, aku tidak mengajaknya mengobrol apa-apa. Sejak aku menyadari kalau aku menyukainya, aku semakin gugup saat sedang bersamanya. Tiba-tiba aku mendengarnya bersin. Ia mengusap hidungnya lalu melanjutkan langkahnya. Aku mendecak melihatnya yang tidak memakai syal itu.

“Kau mau sakit, ya?” tanyaku. El menoleh kearahku dengan tatapan bingung. “Kau tahu ‘kan, semakin lama hari semakin dingin. Bisa-bisanya kau tidak memakai syal dihari sedingin ini. Astaga! Lihat, tanganmu sudah sedingin es,”

Aku melingkarkan syal hijau-hitam dengan inisial ‘R’-ku di lehernya. Kemudian mengusap tangannya dengan kedua tanganku agar sedikit lebih hangat. Aku melihat wajahnya yang pucat kembali memerah. Apa dia berdebar-debar jika kuperlakukan seperti ini. Aku menggenggam salah satu tangannya dan hendak melanjutkan perjalanan kami.

“Tunggu!” cegah El. “A-apa yang kau lakukan?”

Aku menatapnya heran. “Apa? Tentu saja mengajakmu pulang, bodoh!”

“Bukan itu maksudku. Itu… tanganmu,”

“Aku tidak akan membiarkan seorang gadis membeku kedinginan. Sudahlah, jangan banyak omong! Aku lapar, ingin cepat-cepat pulang,”

Langkah kami terhenti saat sudah sampai didepan rumah masing-masing. Aku menengadah keatas. Matahari sudah tertutup awan. Sebuah benda yang menyerupai kapas dalam jumlah banyak mulai turun benda dingin itu mengenai hidungku. Sudah tiba ternyata.

“Salju!” seru gadis disebelahku.

Aku menoleh padanya. “Memangnya kau belum pernah melihat salju?”

“Bukan. Tapi ini pertama kalinya aku melihat salju denganmu, Ray,”

El masih terkagum-kagum dengan turunnya salju pertama untuk tahun ini. Aku terus memperhatikannya. Senyumnya. Aku ingin terus melihat senyum itu. Senyum gadis yang selalu membuatku penasaran. Gadis yang sangat kucintai hingga saat ini. Aku ingin bersamanya, memilikinya seutuhnya.

Aku mendorong El ke dinding terdekat dari tempat ia berdiri. Ia kaget karena sikapku yang tiba-tiba ini. Aku menatap lurus padanya. Aku tahu, ia sangat ingin lari dariku sekarang. Kurasa ia sudah mulai curiga apa yang akan kulakukan padanya. Aku masih menggenggam tangannya. Tangannya bergetar. Ia takut--atau lebih tepatnya gugup. Aku mengangkat dagunya perlahan, kucondongkan tubuhku hingga berada dekat sekali dengannya. Perlahan aku mendekatinya hingga akhirnya kami berciuman dengan salju yang terus turun sedikit demi sedikit. Aku bisa merasakan bibirnya yang dingin itu. Aku juga masih merasakan tangannya yang gemetar karena takut dan sepertinya dia tidak bisa menerima apa yang kulakukan terhadapnya. Aku mengakhiri ciuman kami. Wajah El yang pucat mulai bersemu merah. Ia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu. Kurasa ia akan memarahiku tentang apa yang barusan kulakukan.

“Ray,” katanya gemetar. “B-barusan kau…”

“Aku menyukaimu, El,” sahutku tanpa menunggunya menyelesaikan kalimatnya. “Jadi pacarku, ya?”

El berusaha terus menatapku walaupun aku tahu, matanya terus membendung air mata. Aku bertanya-tanya. Ia gugup atau malah takut padaku? El membuka mulut, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi tertahan--mungkin ia tidak ingin suaranya terdengar aneh.

“Uum... kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku hanya ingin memberitahumu tentang perasaanku saja. Kumohon, jangan menangis karena ini,” lanjutku.

El menggeleng. “Maaf, aku tidak bisa menjawab sekarang. Besok pagi, pasti kujawab,”

Ia berlari kecil masuk kedalam rumahnya. Aku membalikkan badan dan menghela nafas panjang. Akhirnya aku mengatakannya, gumamku dalam hati.


“Agh, dasar bodoh!”desahku sambil melempar tasku ke tempat tidur. “Kenapa aku menciumnya? Apa yang akan dikatakannya besok?
Meminta penjelasan tentang hal itu? Ah, sudahlah! Semua pasti bisa kuhadapi. Tinggal tunggu besok saja,”


Gimana? Gimana?
Ditunggu ya, komennya...
Kalo banyak komen kan, aku ga bosen ke blog lagi~
Ya? Ya?

♥ Read More >>

Sunday, November 8, 2009

Koi no Hibi *Haru's Arrival*

Posted by Ai The Lonely Princess at Sunday, November 08, 2009 7 ♥ People Responds
Akhirnya... Ai memilih untuk ngepost Koi no Hibi dulu~
Nah, lanjut aja,
Baca en komen ya...





Koi No Hibi


♥ Haru's Arrival

♥ Hana


Aku mengusap-usap kepalaku. Rasanya sakit sekali. Aku bahkat tidak ingat apa-apa yang telah terjadi semalam. Aku memandangi kamarku, menghadap ke jendela. Sudah pagi rupanya. Aku menatap bajuku : piyama terusan warna baby pink. Aku bahkan tidak ingat sempat mengganti piyama sebelum tidur. Yang kuingat hanyalah, aku terus menangis dalam pelukkan Hikaru. Mungkin aku harus berterima kasih padanya nanti.
Aku keluar dari kamar, berniat membuat sarapan. Aku hampir lompat karena kaget melihat Hikaru tidur di sofa ruang tengah. Ia masih mengenakan seragam sekolah, hanya membuka dasi dan jasnya. Tidurnya pulas sekali. Aku takut membangunkannya dan akan mangganggunya.

“Hikaru,” panggilku. “Hikaru sudah pagi. Kita bisa terlambat.”

Ia bergumam. Lalu membuka matanya perlahan. Kemudian Hikaru tersenyum sambil kembali bergumam, “aku suka melihatmu memakai piyama itu.”

Apa katanya? Apa dia masih setengah tidur. Aku tidak memedulikan apa yang dikatakannya dan terus membangunkannya. Hikaru mengeluarkan pakaian seragamnya dari dalam tasnya. Ketika kutanya, apa dia memang sudah berniat untuk menginap disini, Hikaru menjawab, “Iya, memang.” Agak aneh menurutku dengan jawaban Hikaru itu. Tapi sudahlah. Dikatakan juga, dia pasti tidak mau dengar.

Sarapan kami pagi itu, benar-benar masakan jepang : nasi dengan sup miso. Selama sarapan, Hikaru tidak mengungkit-ungkit kejadian semalam. Mungkin sebaiknya aku juga tidak mengungkit-ungkit kejadian itu. Selesai sarapan, aku membereskan alat-alat makan yang ada di meja.

Saat sedang membereskan, Hikaru tersenyum dan bertanya padaku, “kau tidak merasa heran dengan piyamamu tadi?”

Memang, aku merasa agak aneh dengan piyamaku, karena aku sama sekali tidak ingat kalau sempat mengganti piyama. “hm, memang heran. Kau tahu sesuatu?”

“Aku tidak mungkin membiarkanmu tidur dengan seragam sekolah,--sama sepertiku--jadi aku menggantikan piyamamu.” Jelas Hikaru.

Spontan wajahku menjadi merah padam. Sepertinya tidak ada tenaga untuk berteriak. Hikaru tertawa geli, kumudian melanjutkan, “Tenang saja, aku tidak berbuat macam-macam kok! Hanya menggantikan pakaian, itu saja. Nah, kalau kau sudah selesai, aku tunggu diluar.”

A-apa katanya? Bagaimana aku bisa tenang? Agh, pagi-pagi saja sudah ada masalah yang menimpaku, bagaimana nanti?, gerutuku dalam hati. Selama perjalanan menuju sekolah, aku berjalan agak jauh dibelakang Hikaru. Tidak tahu kenapa, sekarang aku takut. Bahkan berada didekatnya saja takut. Hikaru menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

“Kenapa berjalan jauh dibelakang seperti itu?” tanyanya. Hikaru berjalan ke arahku. Aku ingin menghindar, tapi kenapa aku tidak bisa bergerak? “hmph, kau takut padaku? Tenang saja, aku memang tidak melakukan apa-apa.”

“B-bagaimana bisa tenang?” balasku. “Kau menggantikan bajuku saat aku tidak sadarkan diri, bagaimana aku bisa tenang? Siapa yang tahu, apa yang kau katakan itu benar. Aku--”

“Yah, terserah kau sajalah. Aku tidak mau mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Kalaupun aku melakukan sesuatu, aku tidak mungkin bersikap setenang ini padamu ‘kan?”
Hikaru melanjutkan langkahnya meninggalkanku yang masih tercengang. Kenapa dia bisa setenang itu? Aku heran, kadang Hikaru bersikap peduli. Tapi kadang dia bersikap sangat cuek. Entah apa yang dipikirkannya, sampai bisa membuat beberapa guru kehilangan kesabaran jika sudah berhadapan dengannya.

Kelas sudah ribut sekali ketika aku membuka pintu. Ada yang bilang, anak ketua yayasan baru saja pulang dari Inggris dan akan melanjutkan sekolah di sekolahku. Anak perempuan sangat sibuk membicarakannya, karena aku dengar anak ketua yayasan itu tampan sekali. Bahkan bayak yang bilang, seperti pangeran. Kenapa itu saja diributkan? Kalau dia memang seperti pangeran, lalu kenapa? Keadaan kelas yang semakin berisik membuat kepalaku sakit. Sakit sekali. Rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

Bel pertanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Pak guru mengumumkan akan ada murid baru dikelas kami. Beberapa anak mulai berbisik-bisik. Hikaru yang duduk disampingku, mulain menanyai pendapatku tentang murid baru itu. Aku tidak menjawabnya, karena kepalaku semakin sakit. Juga saat dia bertanya apa aku baik-baik saja, aku tetap tidak menjawab.

Kelas semakin berisik saat anak baru itu masuk dan memperkenalkan diri. Mungkin karena dia memang seperti pangeran : dengan rambut pirang, warna mata hijau, dan wajahnya yang menurutku lumayan manis. Aku ingin ke ruang kesehatan, sekarang! Aku mengacungkan tanganku untuk meminta izin dan--

“Baiklah, Hana akan mengantarmu keliling sekolah ketika pelajaran selesai.” Kata Pak Guru. Seketika ruang kelas kembali riuh dengan teriakan-teriakan anak perempuan. Eh?

“B-bukan,” bantahku. “Bukan itu maksud saya, Pak. Saya ingin izin ke ruang kesehatan.”

“Ah, begitu? Ada apa, Hana? Kau sakit?” tanya Pak Guru. Aku hanya mengangguk sedikit. Kemudian seseorang menarik tanganku, memintaku berdiri.

“Aku akan mengantarmu,” kata orang itu yang ternyata si anak baru. Namanya--ah, aku lupa. “Kau sudah berbaik hati menawarkan diri untuk mengantarkanku keliling sekolah. Jadi, mungkin sebaiknya aku mengantarmu ke ruang kesehatan.”

“Aku saja,” sambung Hikaru. “Kau sendiri ‘kan, belum tahu letak ruangan-ruangan sekolah ini. Aku saja yang mengantarnya. Sejak pagi dia memang kurang enak badan, Pak.”

“Sudah, sudah,” ujar Pak Guru. “Hikaru, antarkan Hana ke ruang kesehatan. Haru, duduklah di tempat dudukmu. Nah, kita lanjutkan pelajarannya.”

Hikaru terus menarik tanganku sampai mengantarkanku ke depan ruang kesehatan lalu berpesan, “Istirahatlah, jangan kemana-mana. Saat pelajaran selesai nanti, aku akan ke sini lagi.”

“Memangnya kau ibuku?” kataku sambil memasuki ruang kesehatan. Sikap egois Hikaru

“kumat” lagi. Kadang itu membuatku tersanjung, karena Hikaru memperhatikanku. Tapi kadang aku kesal, karena sikapnya yang tidak memperhatikan keadaan. Aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit ruangan. Semakin lama pandanganku semakin kabur dan akhirnya aku tertidur.


Ada suara yang memanggilku. Aku mencoba membuka mata perlahan, kemudian melihat sesosok anak laki-laki duduk disebelah tempat tidur.

“Megumi-san,” kata anak itu. “Maaf aku mengganggumu. Tapi sekarang sudah jam pulang sekolah. Dan aku datang untuk mengantarkan tasmu.”

Aku tersenyum melihat murid baru itu. Tak kusangka ternyata dia baik juga. “Terima kasih, maaf merepotkanmu. Sepertinya aku juga harus pulang. Terima kasih, uhm--”

“Haru,” katanya seperti membaca pikiranku. “Shinobu Haru. Wajahmu masih pucat, mau kuantar pulang?”

“Ah, tidak usah. Rumahku tidak jauh dari sini. Aku bisa pulang sendiri.”

Aku mengangkat diriku dari tempat tidur. Suara pintu dibuka membuatku menoleh ke arah pintu. Hikaru, ia menatapku bersama Haru. Aku mendengarnya perkataannya sebelum dia menutup pintu kembali dan pergi. “Sedang sibuk, ya?” Apa maksudnya? Lagi-lagi Hikaru membuatku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Aku berpisah dengan Haru di ruang kesehatan. Ia anak yang baik. Mungkin dia mau menjadi temanku, pikirku.
Aku membuka pintu ruang tengah apartemenku dan mendapati Hikaru berada disana. Lagi-lagi.

“Aku pindah ke sini,” katanya seakan membaca pikiranku.

“Apa? Lalu bagaimana dengan rumahmu? Apa yang harus aku katakan pada orang-orang kalau mereka tahu kita tinggal bersama?” bantahku.

“Katakan saja pada mereka kalau aku ini saudaramu. Masalah rumahku, aku bosan tinggal disana. Tenang saja, aku akan ikut bayar apartemenmu. Aku juga tidak akan masuk ke kamarmu. Lagipula disini ada dua kamar tidur. Harusnya kau tidak keberatan dengan keberadaanku.”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Tak ada yang bisa membantah keinginan Hikaru, sekalipun orang tuanya sendiri. Aku berjalan ke dapur untuk membuatkan makan malam. Selama makan malam, Hikaru selalu melirik ke arahku. Dan ketika aku mendapatinya sedang memperhatikanku, aku langsung menanyainya.

“Hana,” panggilnya. “Kau menyukai Haru, ya?”

Aku tersedak. “Bicara apa kau? Dia memang anak yang baik, tapi aku biasa saja padanya. Kenapa bertanya seperti itu.”

“Tidak, hanya saja--” balas Hikaru sambil melanjutkan makan malamnya. “Jangan dekati dia,”

“Kenapa? Dia bukan orang jahat.”

“Pokoknya, jangan dekati dia. Aku mau mandi dulu.”

“Maafkan aku,” kataku tiba-tiba. Hikaru menatapku heran. “Aku sadar, semalam kau berniat baik sampai menggantikan piyamaku. Tapi aku malah berpikir yang tidak-tidak. Maaf, ya.”

Aku melihat Hikaru tersenyum walau sepertinya dia tidak ingin aku melihatnya. “Hm, permintaan maaf diterima. Akhirnya kau sadar juga.”


♥ Read More >>

Saturday, November 7, 2009

Good news!

Posted by Ai The Lonely Princess at Saturday, November 07, 2009 0 ♥ People Responds
Ai kembali... membawa GOOD NEWS! Yah, emang bukan bawa carita baru sih~ Tapi ada kaitanya lho! Jadi tetep baca, ya. Ei, jangan lupa komennya. Mmm... mungkin sekarang Ai ga ngomong banyak. Banyak ga ya??




Annyeong!
Ehem, gini, baru-baru ini Ai tanding basket lho... Di salah satu sekolah swasta. Emang sih, ga menang. Tapi kan lumayan, nambah-nambah pengalaman kalo tanding lagi, ga terlalu gugup *ga nyangka, waktu itu Ai gugup banget mainnya*

Teruuus, buat ngerayain ultah sekolah nanti, aku ikut paduan suara. Sebelumnya, kan dicari dulu tuh, anggotanya. Temenku sengaja ngajak Forte ikut. Tapi sayangnnya dia ga mau. Kejadiannya dikantin. Aku ceritain ya, tapi bukan bagian temenku. Waktu itu, selesai makan dikantin, aku pengen bayar. Ke mba kantinnya kan..? *iya lah! ke siapa lagi??* Sementara aku nunggu kembalian, Forte tiba-tiba nyamperin kami--aku dan mba kantin. Dia berdiri disamping mba kantin, tapi bagiku dia berdiri didepanku. Huuaa~ Matanya kearah aku, tapi ngomongnya sama mba kantin!

Suaranya...dewasa! *menurutku* Bener-bener deh! aku ga nyangka kalo dia lebih muda dari aku. Waktu aku perhatiin, dia ternyata makin tinggi. Mungkin udah sedikit lebih tinggi dari aku. Huaaa! Kyaaaa~!!

Nah, cukup ngomongin dia. Beralih ke ceritaku. Koi no Hibi udah aku tamatin...! Yay! Story of Winter juga sih... Nah, sekarang aku nanya. Mau di-post Koi no Hibi dulu, apa Story of Winter dulu...??

Aku tunggu ya, jawabannya.
Annyeong!


♥ Read More >>

Wednesday, November 4, 2009

Story of Winter *He's Warm Me*

Posted by Ai The Lonely Princess at Wednesday, November 04, 2009 7 ♥ People Responds
Story of Winter part 2 akhirnya datang nih~! Maaf ya, lama nunggu *siapa yang nunggu? iih, Ai gr* Yaah, ng... Ai juga sengaja sih, biar nunggu komennya di Story of Winter part 1 banyak dulu *digebukin reader*. Nah, sekarang keanya udah lumayan *menurut Ai*. Jadi, Ai post sekarang! Nah, selamat membaca , en jangan lupa komennya...





Story of Winter


* He's Warm Me

* El


“El, kau lupa membawa sarung tangan?” tanya Ray yang memergokiku yang sedang menghangatkan tanganku.

Aku hanya mengangguk. Ray mendecakkan lidahnya lalu menarik sarung tangan kirinya. Ia memakaikannya padaku. Terlalu besar, memang. Tapi jauh lebih baik daripada tidak memakai sama sekali. Aku mengalihkan pandanganku ke tangan kiri Ray. Buku-buku jarinya mulai memutih. Dia pasti kedinginan, gumamku. Aku berniat mengembalikan sarung tangan Ray. Tapi saat aku ingin menarik sarung tangannya, ia sudah menggandeng tanganku dan memasukkannya kedalam kantong jaketnya. Seketika wajahku memanas melihat apa yang dilakukannya padaku. Aku melihat wajahnya yang seperti tidak terjadi apa-apa. Apa dia tidak merasakan apa yang kurasakan?

“Hey, El,” kata Ray tiba-tiba. “Ada orang yang kau suka?”

“Orang yang kusuka?” ulangku. “Mm, mungkin tidak. Tapi orang yang menarik perhatianku, ada,”

Ray menoleh ke arahku dengan rasa ingin tahunya. Dia pasti pernasaran siapa orangnya, bisa kulihat dari ekspresi wajahnya. “Siapa?”

“Kau?”

Ia terdiam sesaat sambil terus melangkahkan kakinya. Lalu ia melirikku sambil tersenyum sok manis. “Jadi, kau menyukaiku, ya?”

“Apa? Tidak! Aku bilang, kau hanya menarik perhatianku saja. Bukan berarti aku menyukaimu ‘kan?”

“Haha, tidak perlu malu begitu. Tidak masalah kalau kau menyukaiku. Mungkin aku bisa mencoba mulai menyukaimu,”

Entah kenapa, kata-kata Ray membuatku tidak bisa membantah, bukan berarti aku memang menyukainya. Tapi ia sudah berhasil membuat wajahku merah padam dan kehilangan kata-kata. Setelah itu, kami lebih banyak terdiam. Bahkan tidak mengobrol sama sekali. Aku tidak tahu, apa yang sedang kupikirkan, tapi itu membuatku tidak konsentrasi memperhatikan jalan dan akhirnya tersandung batu didepanku. Ray mempererat genggamannya saat aku nyaris jatuh tersungkur. Tanpa kusadari, ia memelukku dari samping. Mungkin maksudnya ingin mencegahku untuk tidak terjatuh. Aku menoleh kearahnya dengan tatapan kaget dan tidak percaya. Ia terus memperhatikanku. Apa ia tidak menyadari apa yang dilakukannya?

Aku berdeham. “Sampai kapan kau terus memelukku?”

“Ah, maaf,” jawab Ray canggung. “Kupikir, kalau aku memelukmu seperti ini kau tidak akan jatuh tersungkur. Maaf kalau mengganggumu,”

“Yah, tidak apa-apa. Terima kasih,”

“Sudah sampai,” kata Ray saat kami berada didepan rumah masing-masing. “Cepat masuk, kau bisa sakit kalau terlalu lama diudara dingin seperti ini,”

Aku tertawa kecil. “Kau seperti ibuku saja,”

“Hey,” sahutnya saat aku hendak membuka pagar rumahku. “Besok aku akan menjemputmu lagi. Tunggu aku, ya,”

Aku tertegun mendengar kata-kata Ray. “Tidak perlu begitu. Aku tidak mau merepotkanmu. Kau ‘kan, bukan bodyguard-ku,”

“Tidak, tidak repot kok. Aku justru senang bisa ditemani pulang olehmu. Ingat, besok ya!”

Ray berlari kecil menuju rumahnya. Aku menaruh tasku di tempat tidur dengan perasaan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Sikap Ray semakin aneh. Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Ray semakin memperlihatkan keagresifannya padaku. Apa itu sikap aslinya? Awalnya aku berpikir, Ray adalah tipe orang yang sulit didekati. Dia terlihat dewasa bagiku. Suaranya yang berat, tubuhnya yang tegap, benar-benar terlihat seperti laki-laki dewasa. Aku memegang pipi dengan kedua tangaku. Kenapa wajahku terasa panas? Aku membuka sedikit tirai jendela kamarku. Lampu rumah Ray sudah menyala--tentu saja, hari kan sudah mulai gelap. Aku pun merasa aneh dengan sikapku akhir-akhir ini. Aku semakin sering memikirkan Ray. Memperhatikan tingkah lakunya, membayangkan apa yang sedang ia lakukan. Apa jangan-jangan aku… ah, tidak! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat, mencoba menyingkirkan pikiran bodohku. Itu tidak mungkin. Mana mungkin aku menyukainya dalam waktu secepat ini! Tidak, tidak, tidak.

Aku mendengar namaku dipanggil dan suara ketukan dari kaca jendelaku. Aku membuka tirai dan mendapati Ray tersenyum padaku dibalik jendelaku. Ray!?

“Hai,” sapanya. “Aku tidak mengganggu ‘kan?”

Aku menggeleng. “Apa yang kaulakukan? Bagaimana dan… kau memanjat pagar rumahku, ya? Dasar bodoh! Kalau orang-orang memukulimu karena mereka mengira kau pencuri, bagaimana? Lagipula, untuk apa kau kesini? Bukankan baru beberapa menit yang lalu kita berpisah?”

“Tidak akan. Lingkungan ini ‘kan, sepi sekali kalau sudah jam segini. Well, aku hanya ingin melihatmu. Aku tahu ini konyol, tapi tidak tahu kenapa, aku sangat ingin bertemu denganmu,”

Aku merasakan wajahku memanas mendengar kata-kata Ray. Ray hanya menatapku sambil tersenyum dengan ‘sok manis’-nya itu. Aku memperhatikan wajah Ray. Ada luka goresan dipipi kanannya. Aku mencoba menyentuhnya. Ia meringis kesakitan. Sepertinya memang sakit, karena lukanya itu juga mengeluarkan darah.

“Mungkin terjadi saat aku memanjat pagarmu tadi. Kenapa kau memasang pagar yang tajam sekali?” gumamnya.

“Tunggu sebentar, ya. aku akan mengambilkan obat untukmu. Tunggu disini,” kataku mengabaikan gumamannya.

Aku menyelinap keluar kamarku, buru-buru mengambil kapas dan obat luka serta plester untuk Ray dan segera kembali ke kamarku. Ray menungguku disana. Aku mengobati lukanya dengan hati-hati. Kadang ia meringis dan aku memarahinya karena semua itu salahnya. Kalau ia tidak memanjat pagar rumahku, ia tidak mungkin merasakan sakitnya diobati dengan obat luka. Tapi ia membalas omelanku dengan kata-kata yang membuatku berdebar-debar karenanya. “Kalau aku tidak memanjat pagarmu, aku tidak akan bisa melihatmu sekarang.”

“Nah, selesai,” kataku setelah menempelkan plester diwajah Ray. “Lain kali, jangan ulangi perbuatanmu ini. Kalau kau ulangi, aku akan benar-benar akan meneriakimu ‘pencuri’ nanti,”

Ray tersenyum lalu hendak kembali ke rumahnya. Tapi tanpa sadar, aku mencegahnya. Aku mengusap pipinya yang sudah ditempeli plester kecil. Aku tidak ingin melihatnya seperti ini. Melihatnya terluka karena aku.

“Jaga dirimu,” kataku.

Ray membalasnya dengan senyum. Ia menggenggam tanganku yang sedang berada dipipinya.

“Terima kasih sudah memperhatikanku. Padahal seharusnya aku yang mengatakan itu padamu--karena kau lebih muda dariku. Jaga dirimu,”

Aku melihat bayangannya ditengah gelapnya malam--walaupun belum terlalu gelap atau malam. Ia turun dari pagarku tanpa mengeluarkan suara seperti layaknya kucing. Aku merasakan pipiku basah. Aku menangis. Tapi kenapa? Apa karena aku terlalu mengkhawatirkan Ray? Ya, ia benar-benar membuatku sangan khawatir. Aku menghapus air mataku dengan punggung tangaku. Aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Aku bahkan tidak ingin mengakuinya kalau aku jatuh cinta kepada laki-laki yang membuatku penasaran setengah mati itu.

*****

Aku melangkahkan kakiku dengan lemas. Mobil jemputan didepan rumah sudah mengomel karena lama menungguku. Tapi aku tetap saja malas. Semalaman, aku terus memikirkan Ray. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa kalau ia menjemputku nanti. Ia pasti sudah pergi pagi-pagi sekali. Well, berbeda dengan sekolah swasta, sekolah negeri cenderung lebih disiplin. Kalau terlambat beberapa menit saja, hukuman sudah menanti didepan mata.

Aku menatap keluar jendela mobil jemputanku. Berusaha mencerna lebih baik apa yang terjadi semalam. Ray, nama itu terus terngiang-ngiang dikepalaku hingga saat ini. Aku butuh teman bicara. Dan kurasa, aku tahu siapa.

“Jessy!” panggilku saat jam istirahat makan siang tiba. Gadis berambut sepunggung itu menoleh kearahku dengan tatapan heran. “Mau makan siang denganku?”

“Kau yang bayar?” tanyanya dengan senyum jahil.

Aku meringis. “Okay. Tapi kau harus mendengarkan ceritaku, ya? aku butuh saranmu,”

“Eh, kau serius mau menraktirku? Mm, baiklah. Kau ada masalah apa?”

Aku terus mengaduk-aduk orange juice-ku dan tidak menyadari terus-menerus namaku dipanggil.

“El!” sahut Jessy tidak sabar. “Memangnya masalahmu benar-benar parah, ya? Sampai kau tidak bisa mendengar namamu dipanggil?”

Aku meringis. “Mungkin. Karena aku baru pertama kali merasakan ini,”

“Apa itu?”

“Kau pernah kuceritakan tentang tetangga baruku itu ‘kan? Itu masalahku. Well, aku menyukainya,”

Jessy tersedak mendengar pengakuanku. Ia buru-buru meminum soft drink-nya.

“Bagaimana bisa? Maksudku, apa secepat itu? Apa dia menyadarinya? Bagaimana sikapnya terhadapmu?”

“Aku juga tidak tahu bagaimana dan kenapa--karena itu aku ingin menanyain pendapatmu. Apa karena rasa penasaranku terhadapnya? Hey, bagaimana menurutmu?”

Jessy berdeham. “Mungkin kau memang menyukainya. Kau sendiri pernah mengatakan padaku, kalau orang yang kau suka itu, orang yang selalu membuatmu penasaran. Jadi, mungkin Ray-lah orang itu,”

“Hm, begitu ya?”

“Hey, kalau ada cerita yang bersangkutan denganmu atau Ray, beritahu aku, ya?”

Aku tersenyum pada temanku yang memiliki rambut sepunggung itu lalu mengangguk. Aku menjauhkan piring makan siangku. Nafsu makanku hilang hanya karena memikirkan perasaanku ini. Ray. Nama itu terus terngiang-ngiang ditelingaku. Ray bilang, akan menjemputku lagi nanti. Bagaimana kalau saat itu aku malah tidak bisa bergerak karena terlalu gugup? Ah, sudahlah! Memikirkannya terus bisa membuat belajarku terganggu. Sekarang ya, sekarang. Nanti ya, nanti.

*****

“Ray, aku sudah tidak lupa memakai sarung tanganku lagi,” sahutku pada Ray yang terus menggenggam tangaku. “Kenapa kau masih menggenggam tanganku?”

Ray menoleh padaku dengan tatapan heran. Ia tidak menjawab dan terus melanjutkan langkahnya. Kenapa anak ini? Apa ia tidak tahu, ia semakin membuatku berdear tidak karuan kalau begini. Aku melirik Ray hati-hati--berharap ia tidak menyadari kalau aku memperhatikannya. Nafasnya mengeluarkan asap putih. Rasanya benar-benar hangat kalau bersama Ray. Aku ingin terus seperti ini. Apa bisa?

*****


♥ Read More >>

Wednesday, October 28, 2009

Story of Winter *Confuse*

Posted by Ai The Lonely Princess at Wednesday, October 28, 2009 11 ♥ People Responds
Ai kembali nih~!
Yah, tapi sekarang ga mau panjang-panjang deh, ngocehnya,
Ai mau post tentang FF (Fan Fiction) yang Ai buat.
Tentang Ai (El) sama tetangga Ai (Ray)
Sambil nunggu Koi no Hibi ditamatin, baca ini dulu ya~?
Tapi jangan lupa, komennya...





Story of Winter


Confuse

* El


“Lho,” gumamku. “Rumah itu sudah ada penghuninya, ya? Kira-kira orangnya seperti apa, ya?”

Tanpa kusadari, aku terus memperhatikan rumah yang berada tepat di depan rumahku dari jendela, membayangkan siapa yang sudah menempati rumah itu. Sudah lama rumah itu kosong ditinggal penghuni lamanya. Dan sekarang, kulihat lampu dirumah itu menyala. Rasa penasaranku bertambah saat melihat pintu rumah itu terbuka. Seorang laki-laki keluar dari rumah itu, hanya mengenakan kaus dan celana pendek selutut. Apa dia yang tinggal di rumah itu? Aku tidak dapat melihat dengan jelas apa yang dia lakukan di halaman rumahnya itu. Tak lama kemudian, dia kembali masuk ke rumahnya. Aku terus berpikir, sepertinya dia masih SMP, atau bahkan sudah masuk SMU. Hari semakin gelap, dan akhirnya aku memutuskan untuk menutup tirai kamarku.
Beberapa hari setelah kedatangan tetangga baruku itu, aku sudah jarang melihatnya lagi. Mungkin karena dia sibuk dengan sekolahnyaaku merasa dia masih sekolah. Tapi hari ini aku bertemu dengannya. Memang, aku tidak menyapanya. Tapi sepertinya aku semakin tahu tentang tetanggaku ini. Dia anak SMP, sama sepertiku. Setidaknya baju yang ia pakai ada seragam SMP negeri. Aku terus memperhatikannya dari belakang hingga tidak memperhatikan jalanku.

“Kya!” seruku refleks saat tiba-tiba tersandung batu. Benar-benar memalukan. Tapi untunglah di jalan itu, hanya ada aku dan tetanggaku. Apa dia menyadari aku terjatuh? Sesaat aku tidak memedulikan hal itu dan mengelus-elus lututku yang lecet. Aku menghentikan gerakkanku saat menyadari ada yang sedang berdiri dihadapanku. Orang itu membungkukkan tubuhnya agar bisa melihatku. Ia menyodorkan tangan kanannya lalu bertanya, “Kau tidak apa-apa?”

Aku mengangkat wajahku dan merasakan wajahku sekarang merah padam saat melihat siapa yang sedang mengajakku bicara. Tetangga baruku! Aku buru-buru menyembunyikan wajahku lalu menggeleng.

“Tidak, tidak apa-apa,” jawabku dan mencoba untuk berdiri.

“Mau kubantu?” tanyanya lagi.

“Tidak, terima kasih. Aku bisa senaduh!”

Tanpa mengatakan apa-apa, ia menarik tanganku, membantuku berdiri. Aku segera berterima kasih dan meminta maaf karena merepotkan. Tiba-tiba ia berseru, “Hey, kau anak yang tinggal didepan rumahku ‘kan?”

“I-iya. Well, aku Ailene Enright. Panggil saja, El,” aku menjulurkan tanganku, mengajaknya bersalaman.

“Ah, aku Raymond Ashwell. Kau boleh memanggilku Ray. Ah, maaf, mau jalan bersamaku?”

Aku mengangguk lalu menyesuaikan dengan anak bernama Ray ini. Selama perjalanan, Ray tidak mengajakku bicara sama sekali. Kadang ia terbatuk, kemudian meminta maaf padaku. Kesunyian seperti ini terus berlanjut hingga kami sampai didepan rumah kami masing-masing. Ia tersenyum padaku lalu menyuruhku masuk ke rumah terlebih dahulu. Aku mendesah kesal saat berhadapan dengan pagar rumahku. Digembok lagi.

“Hhh…” desahku kesal. “Kenapa Mom tidak memberikanku kunci cadangan saja?”

“Kau tidak bisa masuk, ya?” tanya Ray.

Aku mengangguk lalu ia melanjutkan, “Kalau begitu, mau menunggu di rumahku?”
Aku ragu untuk menjawabnya. Sebelumnya, aku tidak pernah berduaan saja dengan laki-lakikecuali Dad dan kakakku. Kalau aku jawab tidak, dia pasti mengira aku sudah berperasangka buruk tentangnya. Tapi kalau aku jawab iya, aku…

“Tenang saja,” kata Ray yang terus menunggu jawabanku. Justru kata-kata itu membuatku semakin ragu untuk menjawab iya. “Aku hanya menawarimu untuk menunggu di rumahku kok. Kalau kau memang ragu karena kau baru mengenalku, tidak apa-apa. Atau kau mau menunggu di halaman rumahku saja.”

Aku mengangguk. Mungkin aku bisa dibilang nekat karena menuruti ajakan laki-laki yang baru saja kukenal. Tapi lebih baik aku mengenalnya dulu, sebelum menilainya. Ray membukakan pagarnya dan mempersilahkanku masuk. Kami duduk di teras depan rumahnya. Aku duduk di salah satu dari dua kursi tersebut. Diantara kursi itu, terdapat meja kecil dengan vas bunga yang mempercantik teras rumahnya. Ray merebahkan lelahnya di kursi lainnya lalu menoleh ke arahku.

“Kau sudah lama tinggal disini?” tanyanya.

“Mm, lumayan. Kau sekolah dimana?” balasku.

“Tidak jauh dari sini. Di persimpangan depan sana, tahu ‘kan?”

Aku mengangguk. Lalu kesunyian kembali menyelimuti kami. Aku mencoba untuk membuatnya lebih baik dengan melontarkan pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di kepalaku.

“Kau tinggal sendiri?” tanyaku. Dia terdiam. Gawat! Sepertinya pertanyaanku terlalu bersifat pribadi. “Ah, maaf kalau aku terlalu lancang,”

“Tidak apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum. “Hanya masalah keluarga,”

Masalah keluarga? Ray membuat rasa penasaranku semakin meningkat. Aku ingin mengetahui yang lainnya tentang Ray. Tapi suara mesin mobil di depan rumahku, mengurungkan niatku. Mom baru saja pulang. Aku berpamitan dengan Ray dan meminta maaf karena sudah merepotkannya hari ini.

“El,” panggil Ray ketika aku membuka pagar rumahnya. “Terima kasih, sudah mau menemaniku tadi.”

Aku hanya membalasnya dengan senyum meski tidak begitu mengerti apa yang dikatakannya. Aku buru-buru menghampiri Mom. Mom melirikku dengan tatapan penuh arti lalu mulai menggodaku. “Ternyata anakku hebat juga,”

*****

“El, tolong tata blueberry-nya, ya! Mom mau membereskan ini dulu,” perintah Mom.
Aku menurut lalu menata blueberry didalam loyang yang sudah dilapisi kulit pai. Setelah selesai menata, Mom memasukkan pai tersebut kedalam oven. Sekitar empat puluh menit lebih aku menunggu dan akhirnya pai blueberry kesukaanku selesai dipanggang. Aku sudah siap dengan piring dan garpuku tapi Mom malah menghalangiku. Ia menaruh beberapa potong pai keatas piring lalu menghiasnya dengan beberapa buah blueberry utuh agar terlihat cantik.

“Nah, sekarang antarkan ini untuk tetangga baru kita,” perintah Mom lagi. Apa katanya? “Mom lihat, kau mulai akrab dengannya. Jadi, tidak ada salahnya kau yang mengantar,”

“Eh, tapi aku”

“Sudah, sana. Sepertinya malam ini akan lebih dingin lagi, jadi pakai jaketmu!”
Kalau sudah seperti ini, Mom benar-benar tidak bisa dibantah lagi. Aku mengenakan jaket merahku lengkap dengan topi rajutan merah. Aku melihat pantulan wajahku di cermin lalu tersenyum pada diriku sendiri. Aku berjalan keluar pagar rumahku lalu melihat pintu rumah Ray tertutup. Apa dia sudah tidur? Tapi aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumahnya. Tak lama kemudian, Ray membuka pintunya. Kulihat rambutnya masih basah dan handuk masih bertengger di bahunya. Seperti baru selesai mandi, pikirku.

“Ini,” aku menyodorkan sebuah piring berisi pai blueberry ke hadapannya. “Ibuku menyuruhku mengantarkan ini padamu,”

“Hey, wajahmu pucat sekali!” serunya tiba-tiba sambil menyentuh pipiku dengan punggung tangannya. “Ayo masuk! Malam ini memang dingin sekali,”

Aku memperhatikan seluruh penjuru rumah Ray. Semua bernuansa hitan-putih. Keren! Ray menyuruhku duduk karena akan membuatkan teh untukku. Kemudian dia berhenti bicara lalu buru-buru munutup mulut dengan kedua tangannya untuk bersin.

“Wajahmu lebih pucat dariku, tahu!” seruku sambil memegang dahi Ray dengan punggung tanganku. “Dasar bodoh, kau demam seperti ini, kau tidak menyadarinya?”

“Hey, memangnya kau kelas berapa sampai berani mengataiku ‘bodoh’?” balas Ray.

“Hm? Kelas dua SMP. Memangnya kenapa?”

“Aku kelas tiga SMP!” jawabnya bangga. “Kau harus sopan dengan kakak kelasmu, mengerti?”

“Cerewet sekali. Sudahlah, kau yang seharusnya duduk. Aku akan membuatkanmu teh. Akan aku cari sendiri tehnya.”

Aku berlari kecil ke arah dapur Ray, walaupun aku sendiri tidak tahu dimana dapurnya. Setelah menyiapkan teh dan sepotong pai blueberry diatas piring, aku kembali menuju ruang tamu untuk menghidangkannya didepan Ray. Ray masih terduduk sambil melamun. Apa yang dipikirkannya? dia sedikit kaget dengan kedatanganku. Sepertinya dia benar-benar melamun tadi, pikirku. Kami menikmati pai bersama dalam kesunyian. Lagi-lagi dalam kesunyian. Aku tidak suka seperti ini. Tapi aku tidak tahu harus mengobrol apa dengannya.

“El, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Ray akhirnya. “Tapi mungkin, ini menyangkut masalah pribadimu,”

“Mm, memangnya apa?” tanyaku balik.

“Kau sudah punya pacar?”

Aku tercengang mendengar pertanyaannya dan buru-buru menjawab, “Apa? Ah, belum. Kenapa?”

Ray menggeleng, “Tidak, aku hanya berpikir, biasanya anak seumuranmu pasti sudah punya pacar. Kenapa kau tidak?”

“Hmph, dasar bodoh. Tidak semua, tahu! Buktinya aku tidak. Aku belum mau memikirkan itu,”

“Oh, begitu…”

Ray mengehela nafas panjang lalu terdiam. “Kau sendiri bagaimana, kau sudah punya pacar ‘kan?”

Kali ini, Ray mulai memasang senyum jahilnya. “Kenapa? Kau mau jadi pacarku?”

“Apa? Jangan bodoh!”

Aku beranjak dari tempat dudukku lalu mengenakan jaketku dan hendak membuka pintu rumah Ray. Tapi Ray menarik tanganku.

“El, tunggu!” cegahnya. Ia menatapa lurus ke arahku. Aku berdebar-debar. Kenapa? Apa yang akan dikatakannya? “Kau berhutang maaf padaku karena mengataiku bodoh,”
Aku menarik tanganku kembali. “Pegang saja hutangku. Akan kubayar nanti!”

*****

Aku merenggangkan tanganku keatas sambil setengah mendesah. Tubuhku agak menggigil. Sepertinya beberapa hari lagi akan turun salju. Tapi kapan, ya? Suara dentingan membuyarkan lamunanku. Ray keluar dari pitu rumahnya. Dia baru bangun ya? gumamku dalam hati. Ia melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan tadi. Tanpa kusadari, aku terus memperhatikan apa yang ia lakukan. Ray melirik ke arahku lalu melontarkan senyum padaku. Wajahku memanas dan langsung memalingkan pandangan darinya.

“Kau masih marah, ya?” tanya Ray.

Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan heran. “Marah? Karena apa?”

“Kemarin, bukankah kau marah padaku?”

“Kemarin?” gumamku sambil mengingat-ingat. “Oh! Ah, tidak juga. Kau tahu, hanya terbawa emosi. Itu saja,”

“Benarkah? Baguslah. Hey, kau mau berangkat sekolah bersamaku?”

“Maaf, aku naik jemputan sekolahku.”

Ray menhela napas dengan nada kecewa. Beberapa saat, kami terus terdiam dan akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan. “Bagaimana kalau pulang sekolah saja? Kita biasa bertemu saat pulang sekolah ‘kan?”

Ray menatapku sambil berpikir lalu ia mengangguk. Syukurlah aku tidak melihat wajahnya yang kecewa itu lagi.
*****



♥ Read More >>
 

Bouken, desho? Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez