Akhirnya Ai kembali, ga tau udah berapa lama ga blogging..
Nah, Ai kembali bawa apdetan Story of Winter...
Maaf ya, kalo lama banget ga balik en ga apdet,
Keasikan di forum sih~
Tapi akhirnya aku balik, kangen sama kalian semua...

Udah deh, lanjut,
Baca en komen ya...
Story of Winter
* I Fallin' Her
* Ray
Aku melirik jam tangaku. Jam baru menunjukkan pukul 3:10 sore. Dia masih belum pulang, gumamku dalam hati. Aku merasa benar-benar konyol sekarang. Kenapa aku mau menunggui gadis yang belum lama kukenal? Aku tidak tahu kenapa, tapi rasa penasaranku pada gadis itulah yang mendorongku untuk melakukan ini. Aku masih inngat saat pertama kali melihatnya. Saat aku sedang membereskan barang-barangku, dia memperhatikanku dari jendela kamarnya. Dan sepertinya gadis berambut sebahu itu tidak menyadari kalau dia terus memperhatikanku hingga hari mulai gelap. Mungkin aku jadi terlalu percaya diri karena dia terus memperhatikanku. Tapi disisi lain, aku merasa seperti benar-benar mempunyai penggemar rahasia. Perasaan yang konyol, ya?
Tak lama saat aku sedang menunggu, aku melihat seorang gadis yang masih mengenakan seragam SMP swasta berjalan di trotoar yang berada di seberang tempatku berdiri. Gadis itu tersenyum, tapi sayangnya bukan padaku. Ia tersenyum pada seseorang yang sedang berjalan bersamanya. Aku hendak memanggilnya, tapi kuurungkan niatku ketika aku melihat siapa yang sedang bersamanya. Seorang laki-laki yang sepertinya sebaya dengannya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah, tanpa gadis yang seharusnya berada disampingku.
Aku merebahkan tubuh diatas tempat tidurku ketika sampai dirumah. Perasaanku kacau. Rasanya ingin marah dan merusak semua barang yang ada disekitarku. Tapi rasa lelah mengalahkan rasa kesalku. Aku membuka kancing baju seragamku sambil berusaha mencerna apa yang kulihat tadi. El pernah mengatakan padaku kalau dia tidak punya pacar dan belum mau memikirkan hal-hal semacam itu. Tapi itu bukan berarti tidak ada laki-laki yang mendekatinya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku mengusap wajahku lalu berjalan menuju pintu. El berada disana. Ia berdiri menutupi wajah dengan buku pelajarannya ketika aku membukakan pintu.
“Ada apa?” tanyaku mencoba menyingkirkan buku yang menghalangi wajahnya.
Ia menunjuk kearahku dan sedikit mengintip dari balik buku. “Itu… bajumu,”
Aku menatapnya heran kemudian mengalihkan pandanganku kearah yang ditunjuknya. Astaga! Aku lupa kalau sudah membuka semua kancing bajuku. Segera mungkin aku menggumamkan maaf pada El dan menyuruhnya mengungguku di ruang tengah. Aku buru-buru mengganti pakaianku dengan kaus dan celana panjang longgar dan kembali ke tempat El menunggu. Aku duduk di sofa sebelahnya dan berusaha memalingkan wajahku agar tidak bertatap muka dengannya.
“Ada apa kau kesini?” tanyaku memecah kesunyian.
“Kenapa kau tidak menugguku?” tanyanya balik.
Aku sudah menunggumu, tahu!
“Well, bukankah kau pulang bersama teman laki-lakimu, ya? aku melihatmu berjalan bersamanya. Aku tidak enak kalau harus mengganggu kalian. Jadi aku pulang sendiri,”
El tertegun mendengar penjelasanku. Ia terdiam sesaat lalu mulai mengeluarkan senyum jahilnya. “Kau cemburu, ya?”
Aku membalasnya dengan tertawa pahit. “Jangan bodoh. Apa yang kau mengerti tentang cemburu, hah? Kau tidak sadar, kau masih terlalu kecil untuk itu, tahu!”
“Jangan menghinaku!” protesnya. “Kita hanya berbeda setahunatau mungkin kurang--tapi kenapa kau menganggapku berbeda bertahun-tahun?”
Aku hanya mendesah mendengar ocehannya. Dia sama sekali tidak mengerti maksudku. Kuakui, aku memang ‘sedikit’ cemburu. Tapi kenapa dia tidak menjelaskan bagaimana hubungannya dengan laki-laki itu? Membuat rasa penasaranku padanya semakin bertambah saja! Aku melirik El. Wajahnya manis, tidak heran kalau banyak laki-laki yang mendekatinya. Semakin lama kuperhatikan, aku baru menyadari kalau wajahnya selalu terlihat pucat dengan pipi yang kemerah-merahan. Melihatnya yang seperti itu, membuat rasa penasaranku kembali muncul.
“El,” kataku akhirnya. “Kau sakit, ya? kenapa wajahmu pucat sekali,”
“Wajahku memang seperti ini sejak dulu. Jangan protes!”
“Hey, kenapa marah seperti itu? Ayolah, jangan memalingkan wajahmu begitu,”
“Aku tidak suka kau menganggapku anak kecil,”
Aku mencoba merayunya, tapi tidak berhasil. El tetap memalingkan wajahnya dariku. Terlintas rencana untuk menjahilinya dipikiranku. Aku meletakkan tanganku di dinding tepat disamping kepalanya. Ia kaget melihat apa yang kulakukan. Aku mencoba menahan tawa dan membuat wajahku terlihat serius. Aku mencondongkan tubuhku hingga dekat sekali dengan wajahnya. Dan mungkin kalau aku memajukan wajahku sedikit lagi--kurasa dua atau tiga senti lagi--kami pasti akan berciuman. Tapi bukan itu yang kuinginkan. Aku melihat wajahnya yang pucat menjadi merah padam. Ia tidak punya cukup ruang untuk bergerak. Aku tersenyum dan menatapnya penuh kepuasan lalu menggumamkan sesuatu padanya. “Aku tidak akan mencium anak-anak sepertimu, kau tahu?”
El mendesah kesal. Aku tak bisa menahan tawa lagi melihatnya. Menyenangkan juga, menjahili anak kecil seperti dia, gumamku dalam hati.
“Aku kira kau akan benar-benar melakukan hal nekat seperti itu. Syukurlah ternyata tidak,” gumam El yang masih tidak mau menatapku.
Aku menepuk-nepuk kepalanya sambil setengah mengacak-acak rambutnya. “Tenang saja, aku akan melakukannya kalau kau sudah cukup umur,”
Astaga! Apa yang kukatakan?
“Eh, apa maksudmu? Gawat, sudah jam segini! Mom pasti akan memarahiku nanti. Sudah, ya. Kapan-kapan aku akan menagih penjelasanmu tentang hal itu. Bye!”
Aku bersandar dibalik pintu rumahku setelah melihat El masuk ke rumahnya. Aku menghela napas panjang. Apa yang barusan kukatakan? Apa itu artinya aku menyukai El? Secepat itukah? Bagaimana bisa? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku. Aku mencoba mengintip rumah El dari jendela. Terlihat ia sudah mengganti seragamnya menjadi kaus dan rok selutut. Ia melirik kearahku--tapi sepertinya ia tidak menyadariku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya lebih dari ini. Tapi sepertinya… aku memang mulai menyukai gadis yang selalu bisa membuat rasa penasaranku bangkit itu.
*************************************************************************************
Aku bersandar di sebuah gerbang sekolah swasta sambil mengotak-atik ponselku. Sebentar lagi dia keluar, gumamku. Aku terus melirik tidak sabar kedalam gerbang itu. Beberapa anak mulai keluar. Kebanyakan mereka memakai sweater musim dingin sekolahnya. Semakin hari memang semakin dingin. Jadi, tidak heran kalau sebagian besar mereka sudah mengeratkan jaket dan sweater. Akhirnya gadis yang kutunggu keluar dari pintu sekolah dan sedang berjalan--dengan temannya--menuju gerbang yang sekolah yang terbuka lebar.
“El!” seruku sambil melambai padanya. Ia membalas lambaianku lalu berlari kearahku meniggalkan temannya yang berambut sepunggung itu.
“Ray, ada apa kemari? Menugguku pulang sekolah?” tanyanya bertubi-tubi.
“Mm, memang tidak boleh?”
Ia tertawa kecil lalu berjalan mengikutiku pulang ke rumah. Selama perjalanan, aku tidak mengajaknya mengobrol apa-apa. Sejak aku menyadari kalau aku menyukainya, aku semakin gugup saat sedang bersamanya. Tiba-tiba aku mendengarnya bersin. Ia mengusap hidungnya lalu melanjutkan langkahnya. Aku mendecak melihatnya yang tidak memakai syal itu.
“Kau mau sakit, ya?” tanyaku. El menoleh kearahku dengan tatapan bingung. “Kau tahu ‘kan, semakin lama hari semakin dingin. Bisa-bisanya kau tidak memakai syal dihari sedingin ini. Astaga! Lihat, tanganmu sudah sedingin es,”
Aku melingkarkan syal hijau-hitam dengan inisial ‘R’-ku di lehernya. Kemudian mengusap tangannya dengan kedua tanganku agar sedikit lebih hangat. Aku melihat wajahnya yang pucat kembali memerah. Apa dia berdebar-debar jika kuperlakukan seperti ini. Aku menggenggam salah satu tangannya dan hendak melanjutkan perjalanan kami.
“Tunggu!” cegah El. “A-apa yang kau lakukan?”
Aku menatapnya heran. “Apa? Tentu saja mengajakmu pulang, bodoh!”
“Bukan itu maksudku. Itu… tanganmu,”
“Aku tidak akan membiarkan seorang gadis membeku kedinginan. Sudahlah, jangan banyak omong! Aku lapar, ingin cepat-cepat pulang,”
Langkah kami terhenti saat sudah sampai didepan rumah masing-masing. Aku menengadah keatas. Matahari sudah tertutup awan. Sebuah benda yang menyerupai kapas dalam jumlah banyak mulai turun benda dingin itu mengenai hidungku. Sudah tiba ternyata.
“Salju!” seru gadis disebelahku.
Aku menoleh padanya. “Memangnya kau belum pernah melihat salju?”
“Bukan. Tapi ini pertama kalinya aku melihat salju denganmu, Ray,”
El masih terkagum-kagum dengan turunnya salju pertama untuk tahun ini. Aku terus memperhatikannya. Senyumnya. Aku ingin terus melihat senyum itu. Senyum gadis yang selalu membuatku penasaran. Gadis yang sangat kucintai hingga saat ini. Aku ingin bersamanya, memilikinya seutuhnya.
Aku mendorong El ke dinding terdekat dari tempat ia berdiri. Ia kaget karena sikapku yang tiba-tiba ini. Aku menatap lurus padanya. Aku tahu, ia sangat ingin lari dariku sekarang. Kurasa ia sudah mulai curiga apa yang akan kulakukan padanya. Aku masih menggenggam tangannya. Tangannya bergetar. Ia takut--atau lebih tepatnya gugup. Aku mengangkat dagunya perlahan, kucondongkan tubuhku hingga berada dekat sekali dengannya. Perlahan aku mendekatinya hingga akhirnya kami berciuman dengan salju yang terus turun sedikit demi sedikit. Aku bisa merasakan bibirnya yang dingin itu. Aku juga masih merasakan tangannya yang gemetar karena takut dan sepertinya dia tidak bisa menerima apa yang kulakukan terhadapnya. Aku mengakhiri ciuman kami. Wajah El yang pucat mulai bersemu merah. Ia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu. Kurasa ia akan memarahiku tentang apa yang barusan kulakukan.
“Ray,” katanya gemetar. “B-barusan kau…”
“Aku menyukaimu, El,” sahutku tanpa menunggunya menyelesaikan kalimatnya. “Jadi pacarku, ya?”
El berusaha terus menatapku walaupun aku tahu, matanya terus membendung air mata. Aku bertanya-tanya. Ia gugup atau malah takut padaku? El membuka mulut, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi tertahan--mungkin ia tidak ingin suaranya terdengar aneh.
“Uum... kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku hanya ingin memberitahumu tentang perasaanku saja. Kumohon, jangan menangis karena ini,” lanjutku.
El menggeleng. “Maaf, aku tidak bisa menjawab sekarang. Besok pagi, pasti kujawab,”
Ia berlari kecil masuk kedalam rumahnya. Aku membalikkan badan dan menghela nafas panjang. Akhirnya aku mengatakannya, gumamku dalam hati.
“Agh, dasar bodoh!”desahku sambil melempar tasku ke tempat tidur. “Kenapa aku menciumnya? Apa yang akan dikatakannya besok?
Meminta penjelasan tentang hal itu? Ah, sudahlah! Semua pasti bisa kuhadapi. Tinggal tunggu besok saja,”
Gimana? Gimana?
Ditunggu ya, komennya...
Kalo banyak komen kan, aku ga bosen ke blog lagi~
Ya? Ya?

♥ Read More >>
Story of Winter *I Fallin' Her*
*ga nyangka, waktu itu Ai gugup banget mainnya*
, en jangan lupa komennya...
♥ About Me


